Senin, 25 November 2013

Sejarah BKC



Selayang Pandang BKC

BKC adalah singkatan dari Bandung Karate Club dan Bina Ksatria Cita pada pengertian yang sebenarnya, didirikan di Bandung pada tanggal 16 Juni 1966 oleh Iwa Rahadian Arsanata. Sejak tahun 1962, telah dirintis pendiriannya dengan nama Bandung Karate School for Self Defence. Gedung Mardisantosa yang terletak di Jalan Sunda No. 2 Bandung adalah tempat pertama BKC didirikan. Tercatat sebagai anggota pertama terdiri dari siswa-siswa Sekolah Guru Pendidikan Jasmani, SMAN Jalan Belitung, STMN I jalan Rajiman serta beberapa orang mahasiswa UNPAD dan ITB. Sejak tahun 1967 hingga tahun 1972 tempat latihan pindah ke pendopo sekolah Tinggi Olah raga Jalan Van Deventer Bandung.

Maksud dan Tujuan
BKC didirikan dengan maksud menghimpun pemuda, pelajar serta berbagai kalangan dalam pembinaan olah raga beladiri berdasarkan kekeluargaan hormat-menghormati serta saling mencintai antara satu dan sesamanya. Secara umum BKC bertujuan untuk membina setiap anggota menjadi Insan Beladiri yang Mandiri yang memahami makna hidup dan kehidupan. Sehingga pada akhirnya, ilmu yang diperolehnya dapat bermanfaat bagi kehidupannya di masyarakat. Setiap anggota BKC dituntut untuk mampu melaksanakan Tri Ratna Keanggotaan berdasarkan kiprahnya.

Dasar Pendidikan Beladiri di BKC
Sumber ajaran beladiri yang diajarkan di BKC sepenuhnya bersumberkan kepada Tuntunan Ajaran Jalaksana yang merupakan Ilmu Teturunan dari Pendiri Perguruan. Kemudian sumber ajaran ini disesuaikan dengan berbagai ajaran ilmu beladiri yang ada, Baik yang datang dari luar maupun dengan yang telah ada di Indonesia. Dalam hal ini BKC berprinsip, mana yang baik diambil dan mana yang buruk dibuang walaupun itu budaya bangsa terlebih yang datang dari luar.

Para Pimpinan BKC dari Tahun ke Tahun
Tercatat sebagai Ketua Umum BKC angkatan pertama Mardisantosa, yaitu Budiarjo, S.H. kemudian dari tahun 1968-1970 BKC dipimpin oleh Kolonel (Pur) H. Anwar Tamim. Dari tahun 1971-1972 Kolonel (Pur.) R. Oetje Djunjunan alm. Wali Kotamadya Bandung waktu itu berkenan menjadi Ketua Umum BKC, Selanjutnya dari tahun 1973-1980 kembali BKC dipimpin oleh H. Anwar Tamim. Dan dari tahun 1981-1982 dipimpin oleh Kolonel (Pur.) Saleh M. Yoenoes. Dari tahun 1983 hingga sekarang ini Ir.H. Awal Kusumah M.S (Putra dari H. Anwar Tamim) terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar BKC.

Kegiatan-Kegiatan
            Sejak awal berdirinya, BKC telah berhasil menyusun program kegiatan yang terpadu sebagaimana layaknya perguruan yang sudah besar antara lain Ujian Kenaikan Tingkat, Penataran Kepelatihan, Latihan Lapangan di gunung, sungai dan pantai. Kejuaraan Intern serta pada tahun 1967, Pendiri Perguruan dilantik di Sukabumi oleh Ditjora (KONI sekarang) Jawa Barat sebagai Wakil Umum PORKI Jawa Barat (ibu Yusuf dari INKAI sebagai Ketua Umum). Kejurnas PORKI pertama diikuti, yaitu di Jakarta pada tahun 1971 kemudian di penghujung 1972 dalam Musyawarah Lembaga Aliran Karate di Jakarta yang dipimpin oleh Jendral Surono dan Widjojo Suyono, BKC dikukuhkan sebagai anggota FORKI. Dalam masalah kegiatan bentuk apapun yang dilaksanakan, BKC senantiasa berpedoman pada Dua Sesanti Perguruan: PRIBADI BUDI CIRI MANDIRI dan MANDIRI KHARSA PUJA WALAGRI.

Bandung Karate Club





Lambang BKC dan Artinya

Warna Lambang
  • Kuning, mengartikan Keyakinan akan ke-Agungan Tuhan
  • Putih, mengartikan Kebersihan/Kesucian Jiwa
  • Merah, mengartikan Keberanian

Pengertian Lambang :
  • Lingkaran, mengartikan Putaran Jiwa dan Pikiran dalam kehidupan yang harus penuh perhitungan
  • Lingkaran Putih, mengartikan Jiwa yang bersih/suci
  • Tulisan Praja Kshatrya Dharma, mengartikan Pembinaan setiap anggota BKC, untuk menjadi Pimpinan yang berjiwa Kshatrya dan Tanpa Pamrih
  • Tulisan kata-kana Karate, mengartikan bahwa Ajaran Ilmu Beladiri yang ditonjolkan adalah Karate

Studi Masyarakat Indonesia


 
BAB IV
PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA INDONESIA
A.    PENGERTIAN PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA INDONESIA
Perubahan sosial merupakan proses yang wajar dan akan berlangsung secara terus-menerus kearah positif maupun kearah negatif. Perubahan sosial (sosial change) lebih menekankan pada sistem pelembagaan yang mengatur tingkah laku anggota masyarakat, sedangkan perubahan budaya (culture change) menekankan pada sistem nilai.
1.      Perubahan Sosial
Perubahan sosial adalah segala perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan didalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya dan perilaku diantara kelompok-kelompok dalam masyarakat (Selo Soemarjan 1992:332).
Empat perkara penting dalam teori perubahan sosial:
a.       Perkara asal-usul
Meliputi masyarakat tradisional yang masih ada saat ini
b.      Solidaritas mekanik dan organik yang ditemukan pada masyarakat tradisonal yang memiliki kecenderungan untuk mempertahankan ide bersama dan tata sosial yang seragam.
Solidaritas mekanik
Solidaritas organik
Mengikat langsung individu dengan masyarakat
Menyebabkan saling ketergantungan antar individu
Memiliki keyakinan dan sentiment bersama
Masayarkat majemuk dan berdiferensiasi
Kepribadian individu tidak dapat di bedakan secara keseluruhan.
Membutuhkan hal-hal yang unik.

c.       Pembagian kerja
d.      Arah perkembangan masyarkat modern.
2.      Perubahan Kebudayaan
Perubahan kebudayaan adalah perubahan yang terjadi pada masyarakat tradisional ke masyarakat modern yang menyebabkan hilangnya keseimbangan nilai dalam masyarakat. Untuk mengatasi hal tersebut perlu adanya akulturasi dalam masyarakat. Akulturasi yaitu percampuran kedua kebudayaan yang berbeda tanpa menghilangkan unsur budaya sendiri.
Masalah yang dikaji dalam akulturasi:
a.       Mengenai metode untuk mengamati, menggambarkan, dan menguraikan proses akulturasi dalam suatu masyarakat.
b.      Jalannya suatu proses akulturasi meliputi :
1.      Inti kebudayaan (covert culture) seperi nilai-nilai budaya, keyakinan keagamaan.
2.      Bagian perwujudan lahir (over culture) seperti kebudayaan fisik (alat-alat, ilmu pengetahuan, tata cara, gaya hidup dan rekreasi).
c.       Psikologi dalam proses akulturasi yang menekankan pada perbedaan kepribadiaan individu dalam masyarakat.
d.      Timbulnya inovasi yang disebabkan karena adanya pemanfaatan SDA dan SDM, penggunaan teknologi baru dan cara-cara baru untuk menghasilkan produk. Untuk mendorong suatu kreatifitas perlu adanya suatu kesadaran dari dalam diri individu, mutu keahlian individu, adanya sistem perangsang dalam masyarakatdan adanya krisis dalam masyarakat.
e.       Gejala penolakan atau penghindaraan akulturasi.
Pada suatu masyarakat yang kuat maka mereka cendurung kan menetang terjadinya akulturasi, namun jika terjadi pada masyarakat yang emah mereka cenderung menghindar dari adanya akulturasi.
Penyebab perubahan sosial budaya:
a.       Perubahan yang berasal dari masyarakat
1.      Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi : pengetahuan yang semakin luas akan mengahasilkan teknologi yang baru yang dapat mengubah kehidupan manusia.
2.      Jumlah penduduk karena pertambahan penduduk atau tingkat urbanisasi
3.      Adanya pertentangan atau konflik mengakibatkan perlihan nilai-nilai dan norm-norma yang telah lama dijadikan pedoman dalam masyarakat untuk bersikap dan berperilaku.

b.      Perubahan yang berasal dari luar masyarakat
1.      Pengaruh kebudayaan masyarakat asing melalui interaksi langsung maupun dengan komunikasi atau melalui komunikasi satu arah dengan media massa.
2.      Peperangan yang mengkibatkan hancurnya suatu tempat.
3.      Bencana alam yang menyebabkan musibah alam seperti banjir, tanah longsor yang mengakibtkan pepindahan penduduk ke tempat lain yang lebih aman.
Faktor penghambat terjadinya perubuhan:
1.      Masyarakat cenderung ragu-ragu dengan terhadap sesuatu yang baru.
2.      Rendahnya pendidikan dan pengetahuan masyarakat sehingga mereka menghendaki hal-hal yang sifatnya statis.
3.      Adanya kecenderungan lebih menyukai atau mempertahankan hal-hal yang sama
Faktor pendorong terjadinya perubahan:
1.      Adanya sifat terbuka
2.      Menyukai hal-hal yang baru
3.      Mempunyai pengalam yang luas
Tiga tahapan perubahan sosial budaya:
1.      Invensi            : proses dimana ide-ide baru diciptakan dan dikembanagkan.
2.      Difusi              : penyebaran atau pengkomunikasian ide-ide dalam sistem sosial
3.      Konsekuensi    : perubahan-perubahan yang terjadi dalam sistem sosial sebagai akibat pengapdosian atau penolakan.


B.     KESENJANGAN SOSIAL BUDAYA
Kesenjangan dalam masyarakat disebabkan karena adanya krisis ekonomi saja, tetapi sudah merupakan multi krisis yang meliputi krisis sosial, budaya, politik, keamanan. Sistem nilai yang ada dalam masyarakat mestinya dapat berfungsi untuk berperilaku seperti yang sudah disepakati atau sudah ditentukan sehingga menjadi tujuan hidup yang telah di tentukan.
Masalah-masalah universal dalam kubudayaan:
1.      Hakekat hidup, yang pada konsepnya kebudayaan yang berbeda ini berpengaruh pada sikap dan perilaku manusia.
2.      Hakekat kerja atau karya manusia yaitu kebudayaan yang memandang kerja sebagai usaha untuk kelangsungan hidup dan untu mecapai hasil dan mempertinggi prestasi.
3.      Kedudukan manusia dalam ruang dan waktu.  Suatu kebudayaan yang memandang masa lalu dan budaya yang memandang jauh kedepan sehingga dapat mempengaruhi perencanaan hidup masyarakat.
4.      Hubungan masyarakat dengan alam sekitarnya yang berpengaruh pada aktivitas masyarakatnya.
5.      Hubungan antar manusia: hubungan ini akan berpengaruh pada proses dinamika dan mobilitas sosial budaya masyarakat.
Kesenjangan sosial dalam masyarakat dengan berorientasi pada lima masalah kehidupan manusia menggambarkan bahwa cepat atau lambat terjadinya perubahan sosial budaya di pengaruhi oleh keadaan masyarakat. Semakin jauh jarak kondisi sosial budaya antara anggota masyarakat semakin jauh pula kesenjangan yang dialami.